
Gula kelapa menjadi salah satu produk unggulan warga Desa Tulungrejo Kecamatan Besuki. Salah satunya adalah Nyami. Dia mengelola pengolahan gula kelapa yang sudah berjalan kurang lebih 30 tahun.
Memasuki dapur sederhananya, aroma khas gula kelapa langsung tercium. Dia tampak sibuk merebus nira (badhek) di atas tungku tanahnya. Uap mengepul memenuhi dapur sederhana yang berukuran sekitar 4×5 meter itu.
Usaha pengolahan gula kepala yang dikelola Nyami itu tergolong tradisional. “Sudah sejak 1996 kami menjalankan usaha ini, saya mengolahnya secara manual,” kata Nyami kepada Admin (08/2).
Produksi gula kelapa tersebut dilakukan hampir setiap hari. Nyami mengerjakannya dari merebus, mengaduk, menuangkan adonan, melepas cetakan, sampai mengemas gula kelapa tanpa bantuan siapapun.
Produksi gula dilakukan masih dalam skala kecil. Tujuannya hanya untuk dijual ke warga sekitar atau warung terdekat. Produksi mampu menghasilkan rata-rata 1,6 kg gula per hari. Dari hasil nderes-nya suami sebanyak 4 batang pohon kelapa yang tumbuh di sekitar rumah.
Galeri
Produksi gula kelapa mulai berlangsung pukul 17.00 hingga 19.00 malam.
Untuk harga, dia membanderol gula kelapanya Rp 25.000 per kilogram. Harga tersebut termasuk normal. Namun, ketika harga naik bisa mencapai Rp 30 ribu per kilogram. “Karena bahan bakunya nira cuma sedikit, ketika musim kemarau tiba,” tandasnya.

